Road to 7.5 IELTS (tips and tricks)

Hari ini tanggal 21 Oktober 2016 mungkin menjadi hari yang paling mengharukan buat saya. Betapa tidak, setelah 2 minggu menunggu hasil, akhirnya nilai IELTS saya ke luar juga. Hasilnya sungguh di luar ekspektasi saya sebelumnya, bahkan gak pernah terbayang sebelumnya bisa mendapatkan nilai setinggi ini. Iya, saya mendapatkan 7.5 untuk nilai keseluruhan (overall score).

Bagaimana bisa?

Bacalah cerita saya di bawah ini.

Tahun 2014 adalah awal mula saya tertarik untuk kuliah dan tinggal di luar negeri. Waktu itu, bulan Februari 2014, saya menghadiri sebuah pameran pendidikan dari negara Inggris, Amerika, Australia dan Canada.

Inggris adalah negara yang selalu membuat saya kagum dan terlebih saya lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dan sudah bergelut dengan bahasa asing itu sejak lama (re: mengajar) membuat saya ingin kuliah dan tinggal di negara berbahasa Inggris.

Sayapun mengunjungi beberapa booths universitas dan mencari-cari jurusan yang saya inginkan. Sampai saya menemukan satu universitas bernama Hull University di Inggis bagian utara.

Saya berbincang-bincang dengan salah satu representative kampus dan langsung menawarkan diri untuk apply ke kampus mereka. Karena terbatasnya waktu, maka saya diminta untuk datang ke IDP Bandung (kebetulan waktu itu saya tinggal di Bandung dan pameran itu pun di Bandung) dan menyerahkan semua dokumen yang dibutuhkan.

Selang beberapa hari, sayapun datang ke IDP Bandung dan bertemu beliau. Setelah memeriksa dokumen, beliaupun langsung memberikan saya offer letter (surat penawaran) untuk belajar di kampus mereka. Dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sayapun langsung bersalaman dan berterima kasih kepada beliau sambil melangkah pulang. Hari itu pertama kalinya saya mendapatkan offer dari universitas di Inggris.

Namun, surat ini masihlah bentuk offer atau tawaran saja belum menjadi surat penerimaan atau Letter of Acceptance (LoA) karena masih ada satu hal yang belum terpenuhi yaitu IELTS.

Apa itu IELTS?

IELTS (International English Language Testing System) adalah test bahasa Inggris yang diwajibkan untuk calon-calon mahasiswa dari negara yang tidak berbahasa Inggris seperti Indonesia ini. Keberadaan test ini menjadi syarat mutlak bagi calon mahasiswa khususnya yang ingin belajar di negara berbahasa Inggris. Setiap kampus mempunyai level yang berbeda untuk syarat ini, untuk masters sendiri rata-rata score nya diantara 6-7 overall score.

Waktu itu saya sedang bekerja di English First (EF) sebagai guru bahasa Inggris. Kebetulan di sana banyak buku-buku IELTS yang bisa saya pergunakan untuk belajar. Saya masih benar-benar buta dengan test ini dan banyak berita yang menyebutkan betapa menakutkannya IELTS ini.

Sayapun belajar secara otodidak di sela-sela waktu mengajar. Saya juga bertanya dan berdiskusi dengan teman-teman EF yang pernah test dan paham dengan tips dan trik nya.

Bulan April 2014, saya memberanikan diri untuk mengikuti test ini di IDP Bandung. Waktu itu biaya nya masih IDR 2250000.

Saya akui tes pertama ini hanyalah ajang coba-coba dan memang benar score saya waktu itu hanya 6.0; Listening 5.5, Reading 5.5, Writing 5.5 dan Speaking 7.0.

Untuk Speaking ini, saya memang mengajar di English-speaking environment jadi sudah terbiasa untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Untuk skills lain, saya memang belum paham teknik nya.

Saya tidak pantang menyerah. Walaupun masih belum jelas beasiswa nya, saya masih mengusahakan IELTS ini sehingga saya bisa dapat LoA dari Hull University.

3 bulan kemudian, saya memutuskan untuk resign dan fokus ke IELTS dan cari beasiswa. Sayapun mengikuti short course IELTS di IDP selama 10 hari sebelum hari tes. Biayanya sendiri IDR 1.700.000 dan testnya sendiri sudah naik menjadi IDR 2.400.000.

Tes kedua kalinya pun masih hasil yang sama dengan overall score 6 namun Reading saya mengalami peningkatan yaitu menjadi 6.5 (prev 5.5).

Lalu saya putuskan untuk menunda dulu kuliah ini karena nilai IELTS saya masih kurang dan juga tidak ada beasiswa.

Sayapun menginformasikan ke pihak kampus Hull kalau saya tidak bisa menerima offer ini karena perihal yang tadi. Namun beberapa minggu setelah itu pihak kampus menyatakan kalau saya bisa kuliah dengan nilai IELTS 6 dan mereka menyediakan partial beasiswa yang hanya meng-cover tuitionnya saja sedangkan untuk living cost saya diharuskan menyediakan £7000 atau sekitar IDR 140.000.000.

Saya dengan berat hati menyatakan kalau saya tetap tidak bisa ambil karena saya tidak punya uang sebanyak itu. Terlebih waktu itu saya sudah punya Work and Holiday Visa Australia dan siap berangkat ke sana.

Singkat cerita, saya berangkat ke Australia akhir Juli 2015 untuk bekerja sebagai aupair. Saya tinggal di Canberra, ibukota Australia.

Di Canberra ini, terdapat banyak free English courses di library atau community yang tersebar di setiap suburb. Saya pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya selalu datang tiap hari nya ke kursus ini. Sampai akhirnya saya menemukan satu kursus IELTS gratis di Civic library (perpustakaan di tengah kota Canberra). Kursus ini gratis dan diadakan setiap hari Sabtu selama 2 jam dari pukul 10.30am-12.30pm. Mentor nya sendiri adalah Profesor dari ANU (Australian National University), kampus terbaik di Australia.

Di sana banyak murid dari seluruh dunia yang mengharapkan untuk improve IELTS mereka. Materinya pun berganti-ganti setiap minggunya dan bahkan mentornya sendiri menanyakan kebutuhan materi yang diinginkan siswa-siswanya.

Saya tidak bisa mengikuti kursus ini setiap minggu karena pekerjaan saya yang fleksibel. Kadang weekend harus bekerja dan akhirnya tidak bisa datang ke kursus. Bahkan beberapa bulan setelah saya bekerja sampingan di hotel, saya tidak pernah datang lagi dan tidak sempat pula berpamitan dengan mentor dan teman-teman di sana.

Selama setahun di Australia, saya akui memang sangat membantu improve kemampuan bahasa Inggris saya, khususnya listening dan speaking. Untuk reading,awalnya saya memang tidak suka membaca, tapi saya fokuskan saja membaca novel-novel yang saya suka yaitu Dan Brown. Alhamdulillah, selama di sana, saya sudah tamat semua bukunya (6 buku). Untuk writing, skill ini memang yang paling menakutkan buat saya karena saya selalu kehabisan ide untuk berkata-kata. Triknya adalah, saya banyak nulis di blog. Saya usahakan menulis dalam bahasa Inggris karena itu bisa memicu otak saya untuk mengingat dan menggunakan kata-kata yang tidak biasa. Walaupun sebagian besar isi blognya curhatan sih. Hehe…

Awalnya saya berniat untuk test IELTS di Australia karena memang tahun ini saya sudah dapat 3 offer masters dari 3 kampus berbeda dan negara berbeda pula. Satu dari Birmingham University, UK, satu dari Groningen University, the Netherlands, satu lagi dari Macquarie University, Sydney, Australia.

Namun karena beberapa hal, sayapun tidak jadi test di sana. Biaya untuk IELTS di Australia sebesar $330.

3 bulan yang lalu (Juli 2016), saya kembali ke Indonesia. Awalnya saya akan pergi ke Italy untuk aupair lagi, tapi visa saya ditolak dan sayapun jadi luntang lantung gak ada kerjaan.

Saya memutuskan untuk mencari pekerjaan dan mencari beasiswa. Alhamdulillah beberapa minggu lalu saya diterima menjadi dosen di salah satu politeknik di Bekasi dan akan mulai bekerja awal November ini.

Sayapun mendapatkan informasi kalau Chevening (beasiswa dari UK gov) sedang buka sampai 8 November, saya berpikir tidak ada salahnya untuk mendaftar. Lalu saya memutuskan untuk ambil IELTS dengan salah satu teman whv (Work and Holiday Visa) dan teman saya yang lainnya.

Saya berencana untuk mengambil test tanggal 24 September either di Bogor atau Jakarta, tapi semua slot sudah penuh dan akhirnya saya memutuskan untuk daftar test di tanggal 8 Oktober.

Waktu itu masih pertengahan September dan artinya saya hanya punya waktu 3 minggu untuk persiapan test ini. Jujur saya gak tahu harus belajar mulai dari mana.

Semenjak saya di Australia, saya banyak meminjam buku IELTS dan mencari-cari website yang bisa membantu untuk persiapan test ini, sampai saya menemukan IELTS Ryan dan IELTS Liz di Youtube channel. Saya menonton tutorial IELTS dari kedua orang ini dan saya lebih suka untuk mengikuti Liz karena saya merasa “nyambung” aja. Di channel dia, Liz mempromosikan website dia yaitu ieltsliz.com dan saya pun langsung penasaran.

Saya benar-benar merekomendasikan website ini karena di dalamnya terdapat tips, tricks dan contoh-contoh IELTS bahkan banyak contoh-contoh dari recent exams yang dishare oleh teman-teman dari seluruh dunia.

Saya membuka semua tautan dia dan belajar secara online untuk ke 4 skills nya. Saya fokuskan ke hal-hal yang masih kurang untuk saya.

Berikut saya tulis tips dan tricks untuk semua skills.

LISTENING

Terdapat 40 soal untuk skill ini yang dibagi menjadi 3 part. Part 1 biasanya percakapan di telepon dan menanyakan identitas seseorang (nama, alamat, no telepon, dan lain-lain). Harap perhatikan instruksi pengisiannya. Kalau di situ diminta one word only, berarti hanya kalau menulis 2 kata pasti dianggap salah. Jangan lupa pula Capital letters untuk nama orang ataupun nama tempat.

Part 1 ini masih terbilang mudah dibandingkan part lainnya. Usahakan part ini diisi semua dan benar karena terdapat kurang lebih 20 soal untuk bagian ini. Lumayan kan kalau 20 benar nilainya sudah 5.5.

Dalam kasus saya kemarin, saya tidak mengisi satu nomor karena memang blank tidak tahu apa yang harus ditulis. Tapi waktu itu saya memastikan kalau saya mengisi semua jawaban d3ngan benar di part 1 ini.

Part 2 Listening kemarin terdapat table dan beberapa blank spaces yang harus diisi. Beberapa di antaranya nama negara dan nama orang yang artinya WAJIB diisi dengan Capital letter. Di beberapa blank lainnya terdapat nama college (College of Design) dengan capital D dan ada satu jawaban yang sangat menarik untuk dibahas. Saya menanyakan jawaban ini ke teman saya yang lainnya dan rata-rata mereka salah menuliskan jawabannya.

Di conversation itu saya mendengar kalau seseorang sangat menggemari photography dan main interest dia adalah photography alam liar (wild-life). Awalnya saya menulis wild life photography, tapi setelah saya pikir, wild life di situ berarti kata sifat atau adjective dari kata photography, jadi wild life ini tidak boleh terpisah tapi harus menjadi satu kesatuan dan harus terdapat hyphen in between. Jadilah saya tulis wild-life photography instead of wild life.

Part 3 menceritakan tentang procedure pembuatan tunnel (terowongan). Di sana ada beberapa highlights yang harus dimatch dengan gambar yang tersedia. Saya sedikit lost attention di part ini dan hanya mengisi sesuai feeling saja.

Alhamdulillah, saya mendapat score 7.0 untuk listening ini. Artinya jawaban benar saya sekitar 30-32.

READING

Reading ini menjadi salah satu favorit saya setelah speaking. Dari 2 kali IELTS sebelumnya, skill ini yang kelihatannya meningkat.

Reading ini gampang-gampang susah, butuh kejelian dan ketelitian.

Part feel in the blank mungkin bagian yang paling gampang karena tinggal copy jawaban dari passage aja. Yang membuat model pertanyaan ini sedikit tricky adalah paraphrasing nya. Jadi harus pinter menerjemahkan apa yang dimaksud di text nya.

Yes/No/Not given adalah bagian yang paling tricky. Salah satu kelemahan saya ada di sini dan inipun menjadi salah satu yang saya fokuskan di latihan reading saya. Dalam 3 minggu sebelum IELTS, saya menghabiskan waktu 1-2jam latihan reading ini, walaupun tidak setiap hari tapi lumayan sering.

Paragraph highlights adalah kelemahan saya yang lainnya. Tips nya adalah cari ide utama atau main idea di setiap paragraph lalu cocokkan dengan highlights yang tersedia.

Di test lalu, highlighting ini ada di passage kedua yang mana topik nya tentang manufacturing. Jujur saya sudah kehabisan waktu dan kelabakan karena kosa kata dan kalimat-kalimatnya kurang saya pahami. Dalam kondisi seperti ini, gunakan scanning atau cari kata kunci yang sesuai dengan pilihannya. Saya gak peduli lagi ngerti atau tidak dengan bacaannya, yang penting saya paham maksud paragraph tersebut.

Tips selanjutnya untuk reading adalah tetap BACA instruksi. Kalau di situ harus ditulis Yes/No/Not Given, atau True/False/Not Given atau No more than one word/two words/three words.

Alhamdulillah dari 6.5 reading score 2 tahun lalu, tahun ini saya mendapatkan 8.5 atau jawaban benar sekitar 37-38.

Berikut ini saya cantumkan table scoring untuk Listening dan Reading yang saya kutip dari ieltsliz.com

WRITING

Setelah selesai test, saya sudah pasrah dengan hasil writing ini. 2 test sebelumnya saya hanya mendapat score 5.5 dan saya kira tahun ini hanya 6 atau 6.5. Ternyata hasilnya di luar ekspektasi, saya mendapat 7.0 untuk writing ini.

Saya lupa apa saja yang saya tulis karena waktu itu saya menulis dalam keadaan nervous karena berburu dengan waktu dan kehabisan kata-kata.

Saya hanya ingin menekankan bahwa dalam writing yang terpenting adalah main idea dalam paragraph pertama harus sesuai dengan pertanyaan yang ditulis. Paragraph setelah hanya ide-ide pengembang saja.

Saya beberapa kali latihan menulis task 1 dan task 2 dan mengingat-ingat kata-kata yang sering muncul.

SPEAKING

Walaupun saya sudah terbiasa berkominikasi dengan bahasa Inggris, saya masih menyempatkan waktu untuk latihan speaking ini.

Saya tulis atau print out pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dan menjawab pertanyaan tersebut dan berbicara sendiri. Kadang saya rekam, kadang pula sambil berdiri depan cermin. Ya jadi kayak orang gila sih ngomong sendiri.

Pas hari H speaking, saya kebetulan dapat pertanyaan di part 1 yang sama persis dengan yang saya lakukan sebelumnya. Pertanyaannya seputar diri sendiri dan kegiatan yang saya lakukan di leisure time.

Part 2 saya mendapatkan pertanyaan tentang “part of your city that you mostly enjoy”. Jujur saya kehabisan ide dan hanya bisa berpikir tentang desa saya.

Part 3 lebih complex. Pertanyaan seputar urban life di kota besar. Saya jawab setahu saya saja.

Dalam speaking ini, interviewer tidak akan peduli dengan jawaban dan ide kita. Yang dimeasure adalah bagaimana kita berbicara dan seberapa lancar kita mengutarakan ide-ide kita tanpa adanya jeda, grammar dan pronunciation jelas sangat diperhatikan. Kalau sekiranya kita merasa salah berucap, perbaikilah secepat mungkin karena itu bisa menambah point.

Dari 3 kali test, speaking saga yang paling stabil yaitu 7.0. Saya sudah puas dengan hasilnya.

Waktu pertama kali saya test IELTS, teman saya bilang kalau saya pengajar Inggris tapi kenapa saya gagal mendapatkan IELTS 6.5.

Saya ingin meluruskan bahwa IELTS itu tidak semata-mata mengukur kemampuan bahasa Inggris kamu, tapi kamu juga perlu teknik untuk mengisi dan memahami dari tiap-tiap part di setiap skill nya. Terlebih, kamu hanya perlu latihan yang cukup sampai kamu temukan trik-trik dalam menjawab.

Kalau triknya sudab kamu pahami, pasti kamu bisa dapetin score yang kamu inginkan.

Semoga bermanfaat dan good luck.
Love,

Rini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s