Menemukan cinta kembali

Beberapa hari yang lalu, di dalam akun instagram saya, mata saya terpikat oleh sebuah postingan dari idola saya, Marissa Anita, di dalam blog nya. Judulnya sama seperti yang saya tulis sekarang. Seorang teman pun tak lupa men-taut-kan postingannya di comment blog saya sebelum ini.

Hati saya terenyuh saat saya membaca postingan itu, pun tak bisa menahan butiran-butiran air mata yang jatuh karena teringat akan keterpurukan saya yang sudah lama saya alami karena kehilangan sosok kekasih idaman.

Satu tahun dua bulan tepatnya sejak dia memutuskan hubungan dengan saya via social media. Saat itu, kami memang terpisah jarak antara Indonesia-Australia setelah sebelumnya terpisah antara Prancis-Indonesia. Hubungan kami seharusnya berada di angka 3 tahun di November 2015, namun kandas di September 2015. Tiga tahun bagi saya sudah cukup untuk mencintai dia dengan sepenuh hati dan sama sekali tidak pernah berpikir akan usai di usia ini.

Satu tahun dua bulan menyandang predikat sebagai wanita lajang tak membuat saya patah semangat untuk menemukan cinta kembali. Dalam kurun waktu tersebut,(pernah) berkali-kali pria mendekat, bertukar nomor handphone, bertegur sapa dalam dunia maya, lalu bertemu empat mata. Saya pikir salah satu di antara mereka bisa menggantikan sosok pria di masa lalu saya. Namun, mereka hanya singgah sesaat, lalu pergi tanpa jejak.

Satu tahun dua bulan saya berada dalam kecemasan, antara membuka hati atau tidak sama sekali. Saya tidak mengerti hati ini, mungkin sudah terlalu dalam luka, akhirnya tak lagi punya rasa percaya. ah, dilemma.

Satu tahun dua bulan saya menghapus semua kenangan pahit ataupun manis bersama dia, mencoba membuang angan dan bayang semu yang (saya pikir) akan saya raih kembali sewaktu saya menginjakkan kaki ke bumi Indonesia ini.

Pernah suatu ketika dia meminta saya berjumpa, saya menolak. Hati dan pikiran saya bergejolak, menentang namun selalu berbalik arah. Pikiran saya selalu menolak nama dia tak akan lagi sama, di lain sisi, hati ini selalu mengalahkan akal sehat. Saya luluh.

Lalu kita bertemu setelah terpisah jarak, waktu dan benua satu setengah tahun lamanya. Kita berdua bertukar pandang dan tersipu malu, merasa janggal namun terbuai dalam hangatnya keheningan. Angan-angan saya terbang tinggi seakan-akan membawa harapan kalau dia adalah orang yang sama yang pernah saya cintai, yang akan membawa saya di kehidupannya nanti.

Mungkin, hati saya selalu salah mencintai, atau waktu lah yang masih belum tepat untuk saya mencintai. Dia pergi, untuk ke sekian kalinya, tanpa waktu yang jelas kapan dia kembali, atau mungkin tidak akan pernah muncul lagi.

Dalam waktu yang tak terbatas, alangkah baiknya saya mengunci rapat hati ini, sampai ada cinta yang baru datang menyapa. Kalaupun tidak, biarlah saya tetap mencinta orang yang sama, dalam harapan yang sia-sia.

 

(Dedicated to Adam Sukma Putra).

Happy Birthday.

Bekasi, 14 Desember 2016.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s