Bu Dosen

Genap satu bulan saya menjadi “bu dosen” dan mengajar di salah satu politeknik Jakarta (tepatnya saya berada di Kalimalang, Bekasi). Dalam rentan waktu ini pula, hidup saya berubah 180 derajat. Dari yang awalnya bebas tidur, kelayapan kemana-mana, sekarang tidur hanya 5-6 jam, harus ngantor dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, atau dari pukul 1 siang sampai 10 malam. Kadang pula, saya berangkat pagi dan pulang larut karena harus hadir di rapat yang berjam-jam lamanya.

Menjadi seorang dosen mungkin cita-cita saya selama ini, jujur saya sangat menikmati. Bukan karena sebagai gelar “dosen” nya saja, tapi saya memang selalu senang bergaul dengan mahasiswa.

Saya mengajar di kampus diploma, di mana mahasiswa saya terbilang sangat lemah bahkan minim dalam hal bahasa Inggris. Banyak di antara mereka yang sama sekali tidak bisa mengutarakan satu kata pun dalam bahasa asing tersebut. Tentunya, ini PR yang sangat menantang bagi saya. Terkadang, saya merelakan satu-satunya hari libur saya di hari Minggu untuk membuka kelas gratis bagi mahasiswa yang ingin improve English nya dengan belajar bersama di rumah kosan saya.

Beruntung nya, saya masih single, belum berkeluarga, ataupun punya pacar. Saya pikir, alangkah bermanfaat hari-hari saya kalau saya bisa melewatkannya dengan mahasiswa-mahasiswa saya.

Satu bulan ini, saya sudah sangat dekat dengan beberapa mahasiswa dan sebagian bahkan pernah saya ajak traveling ke kampung halaman saya di Sukabumi. Saya percaya, kalau saya memposisikan diri sebagai teman mereka, mereka pun akan nyaman dengan saya.

Mahasiswa saya berumur sekitar 18-25 tahun, ada di antara mereka bahkan seusia saya. Sebagian mereka melihat saya sebagai dosen yang “berbeda” baik dari hal penampilan, status ataupun pengalaman. Tak heran, terkadang saya menjadi bahan “cengan” mahasiswa- mahasiswa laki-laki. Ah, saya pikir hal itu biasa saja. Mungkin, pipi saya merah merona kala itu. 🙂

Saya pun bisa bilang kalau mahasiswa saya unik dan lucu. Karena kita adalah kampus vokasi, di mana lulusannya dianggap bisa cepat kerja, tak sedikit pula mahasiswa kita adalah para pekerja dan pelajar sekaligus. Terkadang, saya kagum bagi mereka yang bisa melakukan dua hal tersebut berbarengan. Teringat waktu saya kuliah dulu, saya hanya punya pekerjaan paruh waktu saja, itupun saya banyak mengeluh karena selalu bentrok dengan tugas.

Saya salut dengan mahasiswa saya yang pekerja ini. Pagi hari bekerja sampai sore, malamnya kuliah, membiayai diri sendiri, bahkan ada yang sudah berkeluarga juga, dan mereka jarang mengeluh.

Saya pun bisa katakan hampir 75 persen dari mereka adalah penduduk menengah ke bawah, tapi semangat mereka untuk kuliah sangat besar.

Tak jarang saya kesal karena mereka tidak bisa mengikuti mata kuliah saya. Saya pikir, mungkin lebih enak mengajar mereka-mereka yang sudah fasih ber bahasa Inggris dan berasal dari keluarga-keluarga berada, namun, pastinya kesabaran saya tidak akan teruji, saya pun tidak akan belajar dari mahasiswa saya yang berusaha keras untuk mendapatkan ilmu dari keringat mereka sendiri. Saya pun meluruskan niat saya kalau berada di sini adalah tempat yang tepat untuk lebih mengenal rasa syukur.

Dari segi kolega, saya menghadapi orang-orang dengan sifat dan ciri khas masing-masing. Terkadang, saya selalu merasa jadi orang asing dan “berbeda” dari mereka, tapi saya anggap itu hal biasa. Saya berteman baik dengan mereka, hanya saja tidak ingin terlalu ambil bagian lebih dari teman bekerja.

Pekerjaan yang sangat padat, tak sekedar mengajar, namun juga harus meng-organise segala sesuatu tentang bahasa Inggris, membuat laporan mingguan, bulanan, dan tahunan, juga jadwal rapat yang lumayan banyak membuat saya tidak memikirkan kehidupan pribadi saya.

Bagaimana tidak, hidup saya sekarang hanya rumah dan kantor dan mahasiswa. Telepon saya semakin sering berdering karena banyak nya grup di whatsapp, BBM ataupun LINE. Saya semakin banyak dicari, baik oleh mahasiswa ataupun oleh orang kantor saya. Sampai hari libur pun mahasiswa saya masih menghubungi, bertanya ini itu.

Saya pindah ke Bekasi ini murni karena pekerjaan ini. Saya tidak punya kenalan ataupun teman. Beruntungnya, salah satu teman whv saya baru kembali ke Indonesia dan kebetulan rumahnya di Bekasi, tak jauh dari tempat saya tinggal.

Beberapa kali dia mengajak saya pergi, nonton ataupun sekedar makan, saya sih senang-senang saja. Awalnya, saya tidak mau dekat dengan laki-laki manapun karena ada pepatah mengatakan, “semakin sering kamu bertemu, maka benih-benih cinta akan muncul“. Ya, saya sedikit banyaknya takut juga sih. Tapi, kalau saya tidak bergaul ataupun membuka hati terhadap orang lain, hidup saya hanya begini-begini saja. Jadi, saya putuskan untuk berteman dengan siapa saja dengan catatan saya harus mengenyampingkan hati dan perasaan saya.

Alhamdulillah nya, hal ini berhasil. Saya sukses untuk tidak berperasaan apa-apa sebelum saya tahu maksud dia mendekati saya karena apa. Kalau hanya teman, ya saya pun anggap teman saja, tidak lebih.

Hati dan hidup saya sekarang hanya dipenuhi oleh kampus dan mahasiswa dan bagaimana caranya selama saya di sini, mahasiswa saya bisa berkembang, dari segi bahasa Inggrisnya ataupun keseluruhan hidupnya.

Saat ini, saya hanya cinta mengajar, kalaupun ada yang cinta saya, ya silakan cari cara supaya saya cinta anda juga.

Ah anggap saja ini celoteh sebelum tidur.

Sudah jam 12 malam dan saya mengantuk. Besok harus ke kantor pagi. Sekian untuk hari ini.
Love you

Rini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s