A daddy’s little girl (2)

*Indonesian version*

Masih teringat jelas di pandangan saya, dulu ayah saya ingin saya menjadi seorang perawat. Ketika lulus SMA pun, saya dapat tawaran beasiswa dari pemerintah kota Sukabumi untuk belajar menjadi perawat, ayah saya sangat setuju, tapi saya menolak. Kenapa?

Pertama, Saya bersekolah di sebuah pesantren keinginan ayah saya dan mengambil jurusan bahasa karena di sekolah tersebut tidak terdapat program Science (IPA). Kalau dilihat dari nilai saya, saya memungkinkan untuk masuk program tersebut, hanya saja tidak banyak siswa yang tertarik. Akhirnya hanya 2 program yang tersedia; IPS dan Bahasa.

Sedari dulu, saya memang sedikit sudah menguasai bahasa Inggris dan terlebih bahasa tambahan yang saya dapat adalah bahasa Jepang. 2 bahasa ini yang menarik saya untuk terjun di jurusan bahasa dan bercita-cita menjadi ahli bahasa.

Kedua, Saya menolak untuk bersekolah di keperawatan karena saya sadar diri kalau kemampuan saya tidak memadai di bidang tersebut.

Ketiga, saya sudah diterima di Universitas Islam Negeri Jakarta jurusan pendidikan bahasa Inggris, yang mana sangat sesuai dengan skills yang saya punya.

lalu saya putuskan untuk mengambil jurusan di UIN tersebut.

Saya bersekolah di sekolah islam dan semua itu adalah pilihan ayah saya. Saya menurut. Namun, kala itu, pertama kalinya saya memutuskan bersekolah di tempat yang saya inginkan. Saya dan ayah sayapun sedikit berargumen.

Ayah saya bertanya “mau jadi apa kamu nanti kalau ambil jurusan bahasa Inggris itu?”

Sayapun menjawab dengan PD nya “Saya ingin bekerja di kedutaan Inggris”.

Jawaban yang polos dan tidak masuk akal sih memang, yah, namanya juga young adult, asal ucap saja.

Lalu saya menambahkan “Kalau bisa bahasa Inggris enak Pak, bisa kemana aja”.

Lagi-lagi jawaban yang polos dan asal ucap.

Dengan niat hati yang tinggi, akhirnya sayapun diijinkan kuliah dan tinggal sendiri di Jakarta.

Mulai semester 4, saya sudah mulai mengajar, mulai dari TPA, private ke rumah bahkan ke kantor-kantor. Saya pernah mengajar private direktur keuangan Trans 7 waktu itu. Beliau usia 40an sedangkan saya masih 20an, nervous memang, tapi saya anggap itu tantangan.

Lalu saya ceritakan pengalaman itu ke ayah saya. Tak disangka, ayah saya begitu gembira. Diceritakannya ke tetangga-tetangga rumah kalau saya ngajar orang gedongan (maksudnya di gedung bertingkat :D). Maklum, keluarga saya tinggal di pelosok desa dan tidak pernah menginjakkan kaki ke gedung bertingkat. Saya merasakan ada kebanggaan tersendiri di wajah ayah saya ketika beliau mengungkapkan itu.

Pernah suatu ketika temannya ayah saya menawarkan saya PNS (kondisi masih anak kuliah semester akhir) dan membayar 7 juta, lalu saya tolak. Saya tahu semua itu hanya tipuan dan saya jelaskan ke ayah saya. Ayah saya mudah dirayu, beliau lebih percaya temannya daripada anaknya sendiri. Namun, saya meyakinkan beliau kalau saya bisa jadi PNS tanpa menyogok atau menipu, kalau saya mau. Saya pun berkata kepada beliau kalau saya bisa bekerja walaupun bukan PNS.

Sekarang ini, saya sudah pernah bekerja ke sana kemari, pernah tinggal di negara ini dan itu, dan setiap kali ayah saya berjumpa dengan orang lain, pastilah beliau dengan cakapnya menceritakan pengalaman-pengalaman saya itu. Kadang saya malu dan berkata kepada ayah saya, “sudah, Pak, jangan berlebihan”. Tapi mungkin memang itu cara beliau merasa bangga kepada putrinya. Padahal semua pencapaian saya pun tidak ada artinya tanpa support beliau; moril ataupun materil.

Ayah saya sadar kalau saya sudah dewasa dan segala keputusan yang saya ambilpun beliau terima. Mau bekerja atau tinggal di mana, satu pesan beliau, jangan lupakan shalat.

Kalaupun ada perdebatan ini itu, hal itu saya anggap wajar, karena bagaimanapun beliau akan jadi sosok ayah hebat buat saya dan saya selalu jadi putri kecil yang dikhawatirkannya, terlebih saya memang belum ada muhrimnya.

Satu keinginan beliau yang belum saya penuhi adalah menikah. Beliau sih sudah berkali-kali “menawarkan” pria untuk jadi imam saya, tapi entahlah, tidak ada yang saya inginkan.

Mungkin, kalaupun jodohnya seorang anak perempuan itu ada di tangan ayahnya, biarlah ayah saya yang carikan jodoh untuk saya. Anggap saja, itu sebagai bakti terakhir seorang anak perempuan kepada ayahnya sebelum dia diambil oleh pria lain.

Dan ingat! Semarah-marahnya ayah saya karena saya berprilaku aneh ataupun berbeda, beliau tidak pernah mengatakan hal-hal tidak mengenakkan di telinga saya. Saya rasa, tidak akan pernah ada laki-laki yang se-santun beliau.

And I am proud to be his daughter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s