Tak suka baca, salah siapa?

Akhir-akhir ini di social media sedang ramai membicarakan Big Bad Wolf. Apa itu Big Bad Wolf? Jujur, saya baru mendengarnya beberapa minggu lalu dari pesan seorang teman di grup Whatsapp saya.

Seperti yang saya baca dan perhatikan beberapa minggu ini, Big Bad Wolf itu semacam pameran buku terbesar yang menawarkan berbagai macam buku dengan harga murah.

Sebagai seorang yang kurang suka membaca buku, saya terkadang sedih melihat orang-orang yang antusias dengan event seperti ini. Well, saya mungkin se-antusias mereka ketika melihat buku, gatel ingin membeli, tapi jarang banget dibaca, atau, kalaupun baca, lamaaa sekali.

Saya dibesarkan di keluarga yang memang tidak suka membaca, tapi semenjak saya bersekolah di kota, sedikit demi sedikit minat baca saya tumbuh. Masih ingat waktu itu saya senang sekali membaca buku detektif lima sekawan, dan cerita-cerita detektif lainnya. Bahkan, saya pun tertarik membaca Buffy, si pembunuh Vampire dan cerita historical nya NH Dini.

Masih terngiang di ingatan saya, sewaktu itu teman-teman saya berlomba-lomba untuk membaca buku Harry Potter. Saya pun mulai mencoba membaca, tapi imajinasi saya tak sampai untuk menggambarkan karakter-karakter di buku itu. Saya pun tak pernah membaca buku Harry Potter lagi.

Beranjak kuliah dan mengambil jurusan bahasa Inggris, saya dituntut untuk membaca beberapa novel. Waktu itu mungkin saya kalang kabut karena harus membaca cerita berbahasa Inggris, bolak balik membuka kamus dan berimajinasi karakter-karakter di dalamnya, pun jalan ceritanya.

Saya mungkin termasuk orang visual yang lebih senang menonton daripada membaca. Walaupun tak pernah membaca bukunya, saya khatam semua film Harry Potter. At least, saya bisa bercerita ke teman lainnya tentang alur ceritanya.

Pernah suatu hari saat jamannya kuliah, kakak kosan saya bercerita tentang sebuah buku yang dia bilang bagus banget untuk dibaca, judulnya The Da Vinci Code karya Dan Brown. Awalnya saya tidak berminat membaca karena melihat tebal bukunya pun saya sudah malas, film nya pun gak sempet nonton. Nah, beberapa lama kemudian, film kedua nya Dan Brown yang berjudul Angels and Demons muncul di bioskop. Saya penasaran dan nonton lah film tersebut. Genre film nya Suspense and Thriller. Selama film diputar, saya merasa terbawa dengan alur cerita dan tokoh-tokohnya. Saya suka film itu. Apakah saya mencari buku dan membacanya? TIDAK.

Sampai Akhirnya, beberapa tahun lalu saya berada di Paris dan pergi ke American Library in Paris. Kebetulan di sana sedang ada penjualan buku-buku lama dengan harga yang sangat murah, dan kebetulan juga saya menemukan tiga buku karya Dan Brown yaitu The Lost Symbol, Angel and Demons dan The Da Vinci Code.

Saya tertarik untuk membaca The Lost Symbol dahulu karena dua buku lainnya saya sudah pernah tonton filmnya.

It was fantastic knowing that I was fully involved with the story. Saya suka banget baca bukunya Dan Brown ini. Lembar demi lembar saya baca, gak mau berhenti, bahkan sampai saya baca di angkutan umum. Buku setebal 600 halaman itu bisa saya taklukkan, walaupun dalam jangka waktu yang lumayan lama.

Banyak orang yang bilang bahwa, membaca buku lebih seru daripada nonton filmnya, dan ini membuat saya penasaran. Akhirnya saya baca buku Dan Brown lainnya yang saya beli (Angels and Demons dan The Da Vinci Code), dan memang benar, ceritanya jauh berbeda.

Semenjak itu, saya selalu tertarik dengan novel-novelnya Dan Brown dan ke manapun ada pusat buku murah, pasti yang saya cari adalahn bukunya beliau.

Sewaktu saya di Australia, saya menemukan buku lainnya yaitu the Deception Point dan Digital Fortress. Satu-satunya buku yang belum saya temukan adalah Inferno, tapi saya sudah tonton filmnya tahun lalu dan membaca e-book nya juga.

Oh iya, semua buku Dan Brown yang saya beli itu berbahasa Inggris ya, dan sebagian dari buku tersebut saya download via Google Play Book juga karena waktu itu saya baca sebelum punya hard copy nya.

Ternyata memang benar ya, buku itu jendela dunia. Dari buku-buku yang saya beli dan baca inilah saya menemukan banyak informasi dan saya pun merasa berpetualang ke seluruh dunia.

Alasan kenapa saya suka buku-bukunya Dan Brown mungkin karena alur ceritanya yang menegangkan, terlebih saya lebih suka genre seperti ini dibanding romansa atau drama, alur cerita yang membawa pembaca untuk berjalan-jalan ke beberapa belahan dunia, dan alur cerita yang mengungkap rahasia-rahasia yang tidak banyak orang tahu.

Terkadang, saya pesimis untuk membaca buku-buku genre lainnya karena takut membosankan. Tapi, sekarang saya sudah mulai mau membaca buku apapun itu walaupun masih sangat minim.

Saya akui membaca itu sangat penting, dan saya pun ingin membudayakan membaca kepada anak-anak saya nanti.

Jadi, untuk teman-teman sekalian, jangan lupa membaca ya!

 

Cheers…

Advertisements

One thought on “Tak suka baca, salah siapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s