Marvelous Munich.

Siapa yang tak kenal Bayern Munchen? Klub sepak bola ternama di Jerman ini berada di kota Munich (German:München), sekitar 18 jam dari Paris bermodakan transportasi bus.

Waktu itu tepat dua minggu sebelum kepulangan saya ke Indonesia, saya ingin sekali mengunjungi negara Eropa lainnya. Pilihan pertama saya adalah Belanda, karena saya tertarik dengan bunga tulip dan kincir anginnya. Namun, pilihan saya jatuh ke kota Munich hanya karena saya dapat promo tiket bus dari http://megabus.com/ . Tiket return Paris-Munich-Paris seharga €30 (IDR 450000). Alasan kedua saya pilih Munich adalah saya ingin melihat salju turun. Kebetulan waktu itu adalah bulan Januari dan sedang puncak-puncaknya musim dingin (Winter). Di Paris sendiri tidak bersalju, karena itulah saya mengecek pra-kiraan cuaca di negara dan kota mana saja yang akan bersalju dan kebetulan Munich ini akan bersalju pada hari saya traveling.

18 jam perjalanan dari Paris tidak terasa membosankan. Sepanjang jalan saya disuguhi dengan pemandangan cantik khas negara Eropa, terlebih bus ini melewati beberapa kota dan negara tentunya, seperti Brussels (Belgia), Luxembourg (Luxembourg), Cologne, Stuttgart dan Frankfurt (Jerman) dan akhirnya sampai di Munich.

Sesampainya di Stuttgart, saya disuguhi dengan hujan salju dan pemandangan di sekitar yang rata-rata tertutup salju.

“Wah, cantik sekali” Pikir saya

Pertama kalinya saya melihat butiran-butiran salju turun dan merasa terpukau setiap melihat jalanan bersalju. Memang norak sih, tapi untuk seorang yang selama ini tinggal di daerah tropis, saya selalu merindukan untuk bertemu si putih cantik nan lembut ini.

 

IMG_1794
Pemandangan dari Stuttgart menuju Frankfurt

Saya berangkat dari Paris hari Kamis pukul 12 malam waktu setempat dan sampai di Munich hari Jumat pukul 6 malam. Traveling ke Munich ini tanpa itinerary ataupun rencana tinggal di mana. Saya pikir mau backpacker-an saja.

Tapi….

Sesampainya di Munich bus station dengan cuaca yang dingin, saya pun menyerah. Awalnya saya pikir saya bisa tidur di terminal atau stasiun lainnya, tapi saya tidak menemukan satu orang backpacker pun yang melakukan hal itu. Akhirnya saya berjalan mencari hostel untuk 2 malam.

Beruntungnya, di dekat terminal bus, ada satu hostel namanya A&O hostel. Namun sayangnya, karena saya tidak sempat book jauh-jauh hari dan kebetulan saat itu sedang ada festival (saya kurang tahu festival apa), harga permalamnya pun sangat mahal, €40/malam (IDR 600000) yang artinya saya menghabiskan uang sekitar 1.2 juta rupiah hanya untuk hostel. Padahal tiket busnya aja nyari yang murah :(.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya bermalam di sana.

Foto diambil dari Google karena saya tidak sempat foto-foto hostelnya waktu itu.

Tujuan utama saya ke Munich ini adalah berkunjung ke Allianz Arena, stadion utamanya Bayern Munchen. Dulu sekali, saya pecinta sepak bola dan idola saya si Jerman Miroslave Klose yang juga pernah main di Bayern Munchen ini.

Keesokan paginya, saya pergi lah ke Allianz Arena ini, bermodalkan peta yang tersedia di hostel. Saya lupa naik kereta atau tram mana saja dan turun di mana. kalaupun nanti dapat peta Munich, pasti tertera jelas ko stadion nya ada di mana dan harus turun di station apa.

Dari stasiun pemberhentian, saya berjalan kaki sekitar 500 meter untuk menuju Allianz Arena ini.

Karena musim dingin, jadi Arena ini sepi sekali, hanya ada beberapa orang saja yang berkumpul.

IMG_8501
Allianz Arena, Munchen.

Karena sepi pengunjung, saya pun tidak bisa masuk ke dalam stadion. Saya hanya berfoto dengan tampilan luar si Arena ini dan menikmati salju yang menggunung di pekarangan stadionnya.

IMG_1880
Stadion Allian Arena tampak depan. 

Setelah puas berfoto dengan stadion ini, saya pun menyempatkan diri untuk keliling Munich. Namun , cuaca yang sangat dingin membuat saya tidak betah lama-lama di luar. Saya hanya mengujungi ikon Munich lainnya yaitu Marienplatz atau city square nya Munich. Di sana, terdapat gereja tua nan besar dan banyak shopping centres seperti h&m, Forever21, dan lain-lain.

Saya hanya menyempatkan diri untuk membeli beberapa cenderamata seperti postcards dan beberapa gantungan dan magnet.

Beberapa foto yang saya ambil di sekitar Marienplatz.

Hari kedua di Munich, saya tidak banyak berkeliaran karena memang siangnya harus ke bus station dan kembali pulang ke Paris. Saya hanya berjalan-jalan sekitar hostel untuk sekedar membeli sarapan dan cokelat untuk oleh-oleh di Lidl (supermarket khas Jerman).

Waktu di supermarket, saya ingin membeli sesuatu untuk sarapan. Pilihan saya jatuh ke makanan siap saji seperti salad yang sudah di bungkus rapi di kotak plastik. Namun, karena saya muslim, saya pun harus hati-hati dalam membeli makanan. Saya bertanya kepada pelayan toko apakah ada kandungan pork atau babi dan segala macamnya. Sayangnya, pelayan toko di sana kurang pandai ber bahasa Inggris. Alhasil, saya harus menggunakan bahasa tubuh dan berusaha mencari-cari kata “pork” dalam bahasa Jerman. Pada akhirnya, si pelayan toko pun paham dan menjelaskan kalau memang rata-rata makanan siap saji itu terdapat babi di dalamnya. Saya pun hanya membeli beberapa potong roti saja untuk mengganjal perut selama di perjalanan.

Berikut ini foto-foto yang diambil di sekitar hostel, dalam perjalanan menuju ke stasiun bus.

Yang saya suka dari Munich adalah orang-orang yang disiplin dan mematuhi aturan. Sewaktu saya ke luar dari hostel, saya melihat ada tumpukan surat kabar di depan hostel. Saya kira itu gratis, tapi ternyata berbayar sebesar €1. Awalnya saya heran, ini ko tergeletak begitu saja, tidak ada booth nya, hanya ditaruh di atas meja dengan price tag nya. Kalau orangnya iseng mungkin bisa saja ambil tanpa bayar, tapi nyatanya orang-orang segan juga untuk mengambil kalau tidak membayar. Sayangnya, saya tidak sempat memoto surat kabarnya.

Tips untuk berkunjung ke Munich: pastikan book hostel in advance karena kalau mendadak (terlebih waktu itu ada festival, jadi akomodasi meningkat), dan pastikan patuhi aturan yang ada misalnya membeli tiket tram/kereta karena walaupun tidak ada petugas yang melihat, siapa tahu anda terkena inspeksi dan harus membayar denda. Bagi yang muslim, sedia makanan seperti mie instan, sardines ataupun makanan halal lainnya, karena di Munich ini makanan halal nya tidak sebanyak di Paris. Jadi, pastikan ada berhati-hati dalam memilih makanan selama di sini.

Akhirnya saya pun harus kembali ke Paris dan menempuh 18 jam untuk sampai di sana. Tapi, saya puas sekali karena saya sudah pernah berkunjung ke Munich, melihat Allianz Arena dan memegang salju tentunya. 😀

IMG_8421
Munich, January 2014. 

 

Sampai ketemu lagi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s