Ramadhan di Australia

Tak terasa dua hari lagi Ramadhan tiba. Tahun lalu, saya berkesempatan untuk berpuasa di Canberra, Australia dengan waktu puasa yang lebih pendek, yakni sekitar 11 jam saja. Yes, bulan Juni-Agustus adalah musim dingin di Australia, yang artinya siang harinya lebih pendek.

Pertama kalinya berpuasa di negeri orang tak surutkan semangat puasa saya. Kebetulan saya tinggal dengan keluarga Pakistan yang muslim juga, jadi saya bisa beberapa kali mencicipi takjil atau makanan berbuka khas negara itu. 

Saya bangun sekitar pukul 5 pagi dan menyiapkan sahur untuk saya dan anak asuh saya. Tak beda jauh dengan sarapan biasa, saya hanya menyantap semangkuk oats atau cereal ditambah beberapa potongan buah. Waktu imsak saat itu sekitar pukul 05.40. Selepas shalat Subuh dan mengaji, sayapun kembali tidur. 

Pukul 8 saya siap-siap untuk mengantar anak asuh saya sekolah dan setelah itu saya berangkat kerja. Saya bekerja paruh waktu sebagai housekeeper di sebuah hotel bintang 5 di Canberra. 

Saya bekerja selama kurang lebih 5 jam, mulai pukul 9 pagi dan selesai sekitar pukul 2 sore. Pekerjaan housekeeping ini tidaklah mudah, dimana saya harus mengerahkan tenaga saya berjalan dari lorong dan masuk ke kamar hotel untuk dibersihkan. Terkadang, sayapun harus pindah lantai untuk membersihkan kamar lainnya. Capek? Pastinya, ditambah sedang berpuasa. Tapi saya senang aja menjalaninya. 

Banyak teman sesama housekeeper bertanya-tanya kenapa saya berpuasa? Beberapa diantara mereka menawarkan untuk minum karena beranggapan kalau puasa itu hanya menahan untuk tidak makan saja. Saya jelaskan kepada mereka kalau saya berpuasa menahan untuk tidak makan dan minum juga. Mereka hanya terheran-heran saja sepertinya mendengar jawaban saya, tapi saya jelaskan juga kalau saya sudah terbiasa melakukan puasa karena sebagai kewajiban juga. 

Beruntung pula karena sedang Winter, cuaca saat itupun dingin dan menenangkan. Jadi saya tidak pernah merasa kehausan ataupun kelelahan. 

Setelah selesai di hotel, saya kembali ke sekolah sekitar pukul 3 untuk menjemput anak asuh saya. 

Sesampainya di rumah, terkadang saya mendapati si anak ini uring-uringan bertanya kapan berbuka, saya hanya bisa menenangkan dia saja. Untuk menahan rasa bosan, sering kali saya mencari ide masakan untuk berbuka puasa. Maklum, di luar negeri tak ada penjaja makanan berbuka di pinggir jalan. 

Walaupun sesama muslim, tapi karena saya dan host family saya berasal dari negara berbeda, makanan khas Ramadhan pun tak sama. Saya beberapa kali membuat pisang goreng namun itu terlihat aneh di mata mereka. Pernah si anak berkata, “Rini, we don’t fry fruits” (Rini, kita tidak menggoreng buah-buahan), saya pun bilang kalau di negara saya pisang goreng merupakan makanan yang enak dan biasa disajikan saat berbuka. 

Host mom saya seorang dokter dan beliau sangat strict sekali terhadap makanan. Beliau biasanya meminta saya membuatkan fruit salad (Pakistani: fruit chaat) yang berisi buah-buahan seperti pisang, anggur, apel, kismis yang ditaburi bumbu salad khas Pakistan. Terkadang beliau sempat pulang lebih awal untuk menyiapkan iftar. Masakan yang sering beliau buat untuk berbuka puasa adalah sejenis gorengan yang berisi bayam (di Indonesia lebih mirip seperti bakwan), saya lupa apa saja isi gorengannya. 

Nah, kalau saya libur on weekend, saya beberapa kali mampir ke rumah mba Rahma (teman saya dari Indonesia yang ikut suaminya S3) dan membuat masakan berbuka khas Indonesia. Beliau pun sering membekali saya masakannya karena beliau tahu saya pasti rindu masakan rumah. 

Di hari-hari akhir Ramadhan, saya sempat mendatangi Wisma Indonesia di Canberra dan berbuka puasa bersama dengan bapak Duta Besar dan dengan orang-orang Indonesia di Canberra tentunya. 

Saya merasakan hangatnya berbuka dengan mereka, walaupun awalnya tidak saling kenal, namun karena sama-sama di rantau, kita layaknya bersaudara. 

Kita makan bersama, shalat tarawih bersama, bercengkerama dan saling bertukar pikiran. 

Suasana Iftar Jama’i di Wisma Indonesia

Sambutan dari bapak Duta Besar

Saat itu, pertama kalinya saya berpuasa di negeri sebrang. Saya kira saya akan rindu rumah dan uring-uringan karena tidak bisa makan makanan Indonesia. Tapi saya salah, justru dengan berada di luar negeri, saya malah banyak menyambung silaturahmi. Walau rindu masakan orang tua, tapi semua itu terobati dengan kehangatan orang-orang di sini. 

Di mana pun itu, saya harus terus bisa berpuasa tak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan hawa nafsu lainnya, dan ikhlas pastinya. 

Tahun ini saya akan berpuasa di Indonesia dengan waktu puasa kurang lebih 14 jam dan dengan cuaca panas. Namun jangan sampai semua ini merusak suasana Ramadhan kita ya teman-teman. 

Semoga tahun depan saya bisa kembali merasakan berpuasa di negeri orang, insya Allah :). 

Ramadhan Kareem untuk semua. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s