Anti Sosial Media

Dulu, sebelum saya berangkat ke Australia, saya sempat ‘stalk‘ di Google tentang calon hostmom saya. Hasilnya nihil. Saya berkomunikasi dengan beliau melalui Whatsapp, yang ternyata memang satu-satu nya aplikasi chat yang dia pakai setelah surat elektronik (email). Di profile Whatsapp pun, beliau tidak pernah mengunggah foto ataupun menulis status. Saya sedikit penasaran dengan karakter beliau ini, sampai akhirnya saya tahu sendiri setelah tinggal bersama di rumahnya. 

Beliau memang sangat sibuk, tapi sebagai orang tua tunggal, beliau selalu sigap dan siap dihubungi kapan saja terlebih mengenai anak laki-laki semata wayangnya. 

Perlahan-lahan saya paham kenapa beliau tidak mempunyai akun sosial media seperti Facebook atau Twitter, beliau bilang tidak mau membuang-buang waktu dan pesan tersembunyi nya adalah beliau tidak ingin kehidupan pribadi nya dilihat orang lain, terlebih oleh mantan suaminya. 

Saya setuju dengan pemikiran beliau. Semakin bertambah tua usia saya, saya pun semakin merasa secretive dan merasa tidak ingin hidup saya dilihat orang banyak. Lalu saya uninstall beberapa sosial media yang saya punya. Terlebih, dari dunia maya pula, hidup saya terkadang merasa tidak nyaman karena perspective orang yang berbeda-beda. 

Dunia maya pula bisa menjadikan seseorang tak bisa mengontrol pikirannya karena salah menafsirkan apa yang dia baca. 

Selain hostmom saya, trainer saya sewaktu di Paris pun tidak banyak menggunakan media untuk berkomunikasi. Satu-satu nya alat untuk bertukar informasi dengan beliau adalah melalui email. Beliau bahkan tidak mempunya nomor telpon yang bisa dihubungi, ketersediaan wifi lah yang menjadi andalan beliau dalam berkomunikasi. 

Alasannya sama, beliau tidak ingin dilibatkan dalam dunia orang banyak. Terlalu banyak bicara basa basi ditelpon atau bahkan saling berkomentar tidak jelas di kolom komentar sebuah sosial media. 

Tak hanya beliau, aktor terkenal Reza Rahadian saja tak pernah punya media sosial. Dia berujar bahwa dia masih belum memerlukan itu dalam hidupnya. 

Salah satu wanita favorite saya, Marissa Anita, pun belakangan ini menutup akun Instagram nya. Padahal, dari dia saya belajar banyak, khususnya dalam hal berbahasa Inggris. Beberapa hari terakhir saya masih ‘stalktwitter beliau, ternyata ada akun Instagram baru nya yang hanya diikuti beberapa ratus orang saja dan akunnya pun dikunci. Mungkin followers nya hanya sebatas teman dekatnya saja. 

Saya yakin pasti ada alasan kenapa mereka ini tidak ingin bersosial media. Selain alasan privacy, sosial media memang bisa menjadi ajang caci maki antara teman, sahabat, keluarga bahkan orang yang kita cinta. 

Di usia saya sekarang pun, saya merasa sudah sedikit jengah dengan sosial media. Sepertinya tak ada lagi batasan emosi yang bisa dijaga. Semuanya bisa murka hanya dalam tuturan kata. 

Sekarang, saya memulai merasakan kembali hidup dengan realita, menjadi diri sendiri yang tak diketahui banyak orang, menjadi secretive dan secluded

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s