A perfectionist mom

Host mom ku adalah orangtua tunggal yang sangat meninginkan semua hal sempurna di mata dia. Terlebih, dia adalah seorang dokter yang sangat concern dengan makanan sehat.

Suatu hari, kira-kira satu minggu keberadaan ku bersama mereka, aku membuatkan omelet untuk sarapan si anak. Tak sengaja, aku memasukkan garam terlalu banyak. Ku kira rasanya tidak terlalu asin, maklum orang Sunda sukanya yang asin-asin.

Tiba-tiba, sebelum berangkat kerja, host mom mencicipi omelet tersebut dan menjulurkan lidahnya karena keasinan.

“Ini asin banget, Rini” – ujarnya.

“Kamu mau makan makanan asin begini? tolong dibuang” – dia menambahkan.

Ku hanya terdiam dan meminta maaf lalu membuatkan omelet baru dengan garam yang sedikit.

Selain makanan, host mom ku sangat memperhatikan kesehatan jasmani. Tugasku setiap sore hari adalah mengajak si anak berjalan kaki sekitar rumah, main badminton ataupun bersepeda.

Bagiku itu tak masalah. Hanya saja, anak asuhku memasuki masa teenager yang tak mau disuruh ini itu. Terlebih, hobi dia adalah bermain game seperti anak laki-laki pada umumnya. Tak jarang, aku selalu berdebat dengan si anak sehingga dia bisa menuruti apa yang ibunya katakan.

Terkadang, aku tak bisa berbuat apa-apa ketika si anak tidak mau ke luar rumah. Aku pun mengadu dan meminta host mom ku untuk membujuk si anak.

Terkadang juga, aku merasa selalu disalahkan host mom ku karena aku tidak becus membujuk si anak. Dia tahu kalau anaknya susah dibujuk, dia sendiri tak bisa memaksakan kehendak si anak, namun dia selalu demanding dan menganggap kalau aku lah yang sepenuhnya bertanggung jawab terhadap si anak ketika dia tidak di rumah.

Suatu ketika, saat hendak pergi liburan tahun baru ke Sydney, host mom ku memanggil ku.

“Kamu seharusnya lebih aktif bermain dengan anakku. Tidak seharusnya kamu di kamar terus-terusan” – ujarnya.

Aku hanya terdiam, tidak mau membenarkan atau menyangkal.

Harapan dia adalah, setiap kali dia sampai di rumah, aku dan si anak sedang melakukan suatu kegiatan. Realitanya adalah, si anak lebih hobi mengurung diri di kamar ibunya dan bermain game daripada menghabiskan waktu nya dengan aku.

Dia bukanlah bayi yang bisa aku gendong ke mana-mana. Dia anak laki-laki berusia 10 tahun yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

Saat itu, aku berpikir untuk pergi dan rumah host family aku dan berniat hijrah ke Sydney. Tapi, 6 bulan di sana sudah membuat ku jatuh hati baik ke keluarga tersebut ataupun kepada kota nya.

And I continued staying then.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s