Si buta peta

Sore itu aku panik, bingung harus berbuat apa.

Pukul 17.00 waktu Canberra, aku tiba di tempat kursus berenang, mengantar si anak asuhku latihan renang selama setengah jam.

Terhitung dua bulan aku tinggal di Canberra dan masih belum terbiasa dan hafal dengan peta sekitar kota.

Waktu itu, aku lupa isi kartu transportasi bus dan aku tak punya uang cash (tunai) di kantong ku.

Si anak mulai menggerutu, bertanya bagaimana caranya pulang. Si ibu masih di kantor, tak bisa jemput. Tidak ada satupun dari kita yang punya uang.

“Duh, gimana ini” pikirku dalam hati.

Aku berpikir keras dan yakin kalau tempat kursus ini tidaklah terlalu jauh dari rumah, hanya terpisah satu suburb saja. Rumah kami di suburb Garran, tempat kursus nya di Deakin, dan diantaranya ada suburb Hughes.

Aku yakin kalau jarak Garran dan Deakin tak lebih dari 3 kilometer. Aku pun berkata pada si anak kalau kita berdua pulang berjalan kaki.

17.30 waktu setempat dan saat itu bulan September, awal bulan di musim semi dan matahari tenggelam sekitar pukul 18.00.

Si anak pun setuju untuk berjalan kaki. Aku hanya mengandalkan aplikasi Google Maps di handphone saja.

Si anak berjalan mengikutiku dari belakang, terdiam. Sampai akhirnya, setelah sekitar satu kilometer kita berjalan, dia mulai menggerutu.

“Rini, is this the right way?” – dia bertanya padaku.

Aku tunjukkan aplikasi Maps di ponselku dan berusaha meyakinkan dia kalau ini adalah jalan yang benar.

Si anak sudah merasa bosan dan capek. Puncaknya, saat matahari sudah benar-benar tenggelam dan waktu menunjukkan pukul 18.30, saat semua gelap gulita, aku pun mulai resah.

Tumitku mulai berdarah karena terluka oleh sepatu Converse yang baru saja aku beli seminggu lalu.

Kami sampai di sebuah perempatan yang tidak asing bagiku. Aku pun berkata kalau aku sudah tahu jalan pulang dan menenangkan si anak asuhku.

Bukannua mereda, dia malah tambah beringas. Mulailah dia mengeluarkan kata-kata pedasnya seolah-olah semua ini salahku.

Tiba-tiba telpon ku berdering. Ternyata ibu asuh ku.

Dia bertanya aku sudah sampai di mana, dan aku jelaskan kalau kita berdua sekitar 500 meter lagi sampai rumah.

Ibu asuhku sedikit berdebat denganku. Dia berkata kalau kartu debit bank bisa dipakai untuk membayar bus. Aku jelaskan kalau itu tidak benar karena ada kartu tersendiri yang dipakai khusus untuk moda transportasi di Canberra.

Si anak asuhku makin menggerutu mendengar aku berdebat dengan ibu nya. Otomatis dia membenarkan apa yang dikatakan ibu asuhku. Tiba-tiba dia pun merebut telepon ku dan mulai mengadu.

“I told you you can use the bank card” – ujarnya dengan amarah yang menjadi-jadi.

Aku berjalan terpincang-pincang mengikuti si anak asuhku yang berjalan duluan. Dada ku pun sesak, air mataku jatuh karena tak tahan merasa disalahkan.

Lalu aku berkata sambil terisak-isak menahan tangis “I’m sorry, I didn’t know”.

Setelah perdebatan yang cukup panjang, kami tiba di halaman rumah. Aku pun membuka pintu dan si anak asuhku membanting semua barang bawaannya; sepatu dan baju nya tergelatak di lantai.

Masih dengan airmata yang berlinang di mata ku, aku mulai memasak makan malam untuk anak asuhku. Tak lama, ibu asuhku pun datang.

Dia hanya terdiam dan tak berkata apa-apa hanya menenangkan anaknya saja. Makanan sudah siap di atas meja. Aku tak punya selera makan, si anak pun masih menggerutu dan belum mau makan. Aku bergegas masuk toilet dan membersihkan luka ku, berganti baju dan salat.

Dada ku masih terasa perih karena menahan tangis. Si anak dan ibu asuhku pun berada di ruang tamu masih membahas kekesalan si anak pada ku.

Ibu asuhku memanggilku, aku pun ke luar kamar dan tak tahan menahan air mataku. Aku menangis terisak-isak dan tak terima kalau aku disalahkan. Aku pun minta maaf karena kelalaian ku yang tidak teliti membawa uang dan tidak tahu arah pulang.

Ibu asuhku hanya menyuruh aku menenangkan diri. Aku pun kembali masuk kamar dan berdiam sebentar.

Mereka berdua duduk di meja makan dan menyuruhku untuk makan malam bersama. Nafasku sudah lega. Si anak pun sudah mulai tenang. Kami pun makan malam dalam hening.

Pukuk 22.00, aku pun kembali ke kamar ku dan berbaring, mencoba menutup mata dan melupakan kejadian hari ini.

“Melelahkan” – ucapku.

Aku pun terlelap dalam sekejap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s