Tentang sebuah pernikahan

Saya tahu dan sangat yakin bahwa setiap wanita memimpikan sebuah pernikahan yang sempurna, dengan orang yang tepat tentunya, dan bahagia hingga masa tua, saya pun sangat menginginkan semua itu.

Dari segi usia, saya sudah cukup matang untuk menikah, namun Tuhan belum mengizinkan, dan saya yakin pula ada rahasia di balik ini. Saya hanya bisa berdoa dan menunggu, dan tentunya mendengarkan kisah-kisah perjalanan rumah tangga dari keluarga, teman dan rekan sejawat.

Berikut kisahnya…

Perempuan A, usia 40an, sudah pernah menikah dua kali dan sekarang menjanda untuk kedua kalinya juga. Dia seorang pekerja keras dan menghidupi satu anak laki-laki ABG (Anak Baru Gede). Sudah beberapa tahun menjanda, rupanya dia masih ingin membangun mahligai pernikahan, tak salah memang, hanya saja sekarang dia menjalin hubungan dengan seorang yang sudah ber-istri. Dia katakan kalau dirinya tak keberatan untuk jadi istri kedua asal keduanya suka sama suka dan istri pertamanya sudah kenal dia. Namun masalah tidak hanya itu, keluarga dia menentang keras dan tidak rela dia menjadi istri kedua, dengan alasan masih banyak yang masih single dan mau menikahi dia. Tapi rasanya dia tak peduli dengan ucapan orang, bahkan keluarganya sendiri, dia tetap dengan pendiriannya, menjalin hubungan dengan suami orang.

Perempuan B, usia lebih dari seperempat abad, menjanda dan punya anak dua yang masih kecil. Dulu dia menjadi istri kedua dan dicap sebagai perebut laki orang alias Pelakor. Pernikahan itupun bukan atas kehendak dia, namun orangtuanya yang tergiur dengan materi dan kemapanan semata. Dalam beberapa tahun menjalin rumah tangga, batinnya tersiksa. Dia sering dihujat, dimaki dan diadili sepihak oleh keluarga si istri pertama. Dia hanya bisa menangis, tak mampu membela. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah orangtuanya dan memilih membesarkan anak-anaknya seorang diri, jauh dari makian sang istri pertama, dan lepas dari sebutan pelakor. Dengan usianya yang masih terbilang muda, hati dia sangat kuat untuk menerima kenyataan dan rasa-rasanya anak-anaknya lah yang menjadi semangat hidupnya. Sampai saat ini dia belum bisa bekerja karena anak-anaknya yang masih kecil dan hidup hanya mengandalkan nafkah dari mantan suaminya.

Perempuan C, usia hampir 40, menjanda dengan dua anak, laki-laki dan perempuan usia 17 tahun-an. Dahulu kala, dia menikah dengan seorang pria baik hati, berwibawa dan bertanggung jawab. Namun di tengah jalan, perempuan ini tergiur oleh laki-laki lain dan memutuskan untuk bercerai. Si pria sudah menikah kembali, namun si perempuan ini, sampai sekarang dia masih menjadi dengan cap “pelakor” alias perebut laki orang.

Lagi, saya menemukan kasus pelakor. Perempuan ini terbilang “extreme” karena dia berani untuk menantang si istri pertama dan anak nya walaupun akhirnya dia memutuskan untuk menjauhi laki-laki tersebut dan sekarang menjalin hubungan dengan suami orang (lagi).

Entahlah apa yang dia pikirkan, namun bagi saya, mengambil atau merebut suami orang lain adalah BIG NO. Saya pun utarakan kalau saya lebih baik tidak menikah dibanding harus menikah dengan suami orang lain. Namun kedua perempuan yang saya sebutkan di atas mengutarakan hal lain. Bagi mereka, mencintai dan (mungkin) pada akhirnya menikahi suami orang lain adalah nasib hidupnya yang tidak bisa mereka tolak. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan. Sebuah kesimpulan yang buntu!

Perempuan D, usia menjelang 30, masih punya suami dengan dua anak perempuan usia 5 dan 3 tahun. Rumah tangga suami dan istri secara internal tidak ada masalah. Masalah terjadi antara menantu dan mertua. Yes, masalah klasik ini yang paling saya takutkan ketika ber-rumah tangga. Bisakah mertua dan menantu saling menghormati dan akur satu sama lain?

Tahun ini adalah tahun ke-7 perjalanan rumah tangga mereka, dan dalam rentan waktu ini pula si perempuan ini kebal dengan cemoohan sang mertua.

Sang suami adalah anak pertama dari tiga bersaudara, adik nya berpenghasilan pas-pasan sedangkan dirinya berpenghasilan lumayan, dan dia punya seorang adik yang masih kecil pula. Jadi sang mamah mertua merasa punya hak untuk minta ini dan itu. Memang tidak salah, anak laki-laki wajib bertanggung jawab atas keluarga nya pasca dia menikah, namun sang mertua harus mengerti pula bahwa anak laki-lakinya sudah bertangging jawab atas perempuan lain plus anak-anaknya. Si suami haruslah bersikap adil terhadap keduanya, istri dan ibunya.

Dalam kasus ini, sang mertua selalu diberi uang bulanan oleh si anak. Namun sering kali dia merasa cemburu jika si menantu diberi ini itu dan dia mengumbar-umbar di hadapan para tetangga. Si menantu merasa diperlakukan semena-mena karena si mertua selalu membicarakannya di belakang dia. Sang mertua selalu mencari-mencari keburukan si menantu nya.

Pernah satu ketika, sang mertua meminta dibelikan handphone dan meminta uang bulanan dan tunjangan hari raya (THR) dan si ibu dari perempuan ini sedang sakit yang mana butuh uang untuk berobat. Si suami, sudah membelikan dua handphone untuk kedua orang tuanya plus uang bulanan dan THR. Si istri mengamuk, meminta suaminya adil karena dia merasa suaminya terlalu berlebihan dalam memberikan materi. Si istri berucap bahwa dia sedang butuh uang untuk pengobatan ibunya. Si suami pun menurut, dia berikan dua handphone dan uang bulanan saja untuk ibu bapaknya, sedangkan uang THR untuk ibu istrinya.

Namun apa yang terjadi, sang mamah mertua selalu merengek dan berucap dia tidak punya uang untuk hari raya padahal anak nya sudah memberi jatah untuknya. Sang menantu tentunya jengkel, dia merasa mertuanya tidak pandai bersyukur dan selalu mencari alasan untuk menarik perhatian suaminya.

Dari berbagai cerita di atas, bisa saya simpulak bahwa pernikahan itu tidaklah mudah. Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang yang jatuh cinta, tapi harus menyatukan dua keluarga pula untuk saling mencintai dan menghargai satu sama lain. Rasa-rasanya, perbincangan kedua belah pihak keluarga harus diadakan sebelum pernikahan terjadi supaya satu sama lain bisa saling mengerti. Istilah menantu dan mertua harusnya tidak ada, setelah pernikahan, hubungan yang terjadi adalah anak dan orangtua. Itu yang perlu dicatat!

Dan untuk para perebut suami orang dan si pria itu sendiri, cobalah berada di posisi perempuan pertama yang dinikahi. Saya yakin, tidak ada wanita yang ingin dibagi cinta suaminya. Yang ada hanya pilihan, istri atau si perempuan baru. Tapi, itu kembali ke pribadi masing-masing. Kalau bisa saling menjaga, go ahead!

Semoga saya diberikan jodoh yang terbaik yang hanya mencintai saya seorang, dan dengan keluarga yang bisa saya andalkan pula layaknya ibu dan bapak kandung saya.

Semoga.

Wallahu A’lam.

Advertisements

One thought on “Tentang sebuah pernikahan

  1. Setuju, Rien..
    Setwlah menikah semuanya bukan jadi satu2nya happy ending..
    Selalu ada cerita dan masalah baru yang menuntut kita membuat jalan keluar yang happy ending..
    Tidak selalu bisa dan sangat tidak muddah.
    Makanya kita perlu banyak2in berdoa, Rien. Hanya dengan mengandalkan Tuhan,kita bisa dapat hikmat untuk menyelesaikan swmuanya satu per satu..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s